Skip to main content
x

Ternyata Mudah! Cara Membuat Brand Sebuah Produk Spa Wellness Agar Dikenal di Dunia Digital

JEJAKVIRAL- Brand sebuah produk sangat penting sebagai salah satu cara memasarkan kepada konsumen dan memiliki daya saing dengan kompetitor lain.

Termasuk dalam usaha spa. Brand menjadi salah satu yang harus dilakukan ketika kita akan memasarkan produk-produknya.

Hal ini disampaikan Founder Mainstream Institut, Asep Herna seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Selasa (29/4/2025).

Menurut Asep, untuk membuat brand usaha sendiri sesungguhnya sangat mudah mengcreate-nya. 

Apalagi di era digital saat ini, mau anak-anak gadget bisa membuat brand-brand tertentu, namun sayangnya mudah dibikin tapi mudah mati.

"Berarti ada sesuatu yang salah dalam proses penciptaan brand tersebut. Itulah sebabnya saya coba di sini akan sharing tentang bagaimana cara kita menciptakan brand yang outstanding   sehingga bisa sustainable," papar Asep.

Yang terpenting, menurutnya,  mampu mengaplikasikannya ketika menciptakan brand yang berhubungan dengan wellness sesuai dengan area yang saat ini aktif.

"Saya   overview dulu tentang media saat ini  ketika era digital sudah sedemikian meriahnya.  Sehingga sangat memudahkan kita untuk  membuat brand," ujarnya.

Ditegaskan Asep bahwa proses membuat brand ini tidak sesulit ketika  tahun 90-an.

Apalagi,  saat ini dipermudah dengan keadaan. Dari data yang dihimpun, ada sekitar 370 juta pengguna ponsel,  204 juta pengguna internet dan 190 juta pengguna medsos.

Artinya  market kita itu sudah hidup betul-betul di dunia digital. Di dunia kehidupan, dunia riil. 

Tapi sebagian besar bahkan riset  pernah mengatakan bahwa orang ketika cari sebuah brand itu melakukan transaksi yang sebagian besar terjadi di dunia maya, dunia Internet bukan lagi dunia offline.

 Dan ini adalah habitnya bahwa 8 jam 30 menit sehari orang itu berselancar di dunia Internet, kemudian 2 jam  50 menit menonton TV,  3 jam 13 menit bermedia sosial.

"Artinya kalau digabung dengan internet sudah 11 jam kehidupannya itu di dunia  maya," jelasnya. Lantas 1 jam 47 menit baca media cetak. Artinya sebagian besar hidupnya target kita itu adanya di dunia  digital," jelas Asep.

Dengan demikian,   prospek brand yang akan kita ciptakan atau yang sudah kita ciptakan lantas mau bagaimana nanti melakukan strategi branding di beberapa media yang sesuai urutan paling terbanyak digunakan saat ini.

Ternyata WhatsApp itu masih urutan pertama, kedua Instagram, Facebook, telegram, TikTok yang saat ini terus menyalip.

Dan rata-rata alasan orang menggunakan internet itu mencari informasi termasuk cari brand yang recommended. Jadi saat ini orang begitu cerdasnya  ketika mau membeli brand itu. 

"Kalau zaman dulu kan pola konsumsinya  itu Attention, Interest, Desire, Action (AIDA). Kalau sekarang itu Aisas (Attention, Interest),  mereka nggak langsung beli. Tapi  searching dulu di internet apakah cukup meyakinkan tidak brand yang mau  dibeli.

Setelah membeli itu, setelah puas atau atau mengecewakan, mereka kemudian sharing pengalamannya lagi di internet.

Itu pola yang harus para brand owner  perhatikan nanti cara mereka konsumsi. Maka  branding pun harus mengikuti pola konsumsi tersebut.

"Ini bisa disimpulkan terjadi demokratisasi akses informasi yang berimbas pada demokratisasi ekonomi. Siapa pun mendapat peluang yang sama untuk sejahtera, untuk mengakses informasi dan bisa terkenal.

Kalau istilah Sunda, Kampung bau lesung sampai kemudian warga megapolitan itu sama-sama memiliki hak yang setara untuk bisa melakukan apa saja, untuk bisa terkenal untuk bisa menciptakan brand bahkan bisa sama power fullnya  dengan para pemilik modal.

"Kita tidak perlu lagi punya pabrik ini adalah untuk punya brand. "Jadi kita tidak perlu mengeluarkan banyak modal untuk menciptakan sebuah produk," tandasnya.

 

 

Daerah