Kemampuan dan Potensi Diri dengan Menjaga Kesehatan Mental
JEJAKVIRAL - Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang.
Tentunya sehingga kita dapat menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.
"Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan atau potensi dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup serta dapat menjalani hubungan posisi dengan orang lain," ujar Nur Asia Sandiaga Uno, seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Jumat (7/3/2025).
Sebaliknya, lanjut Nur Asia, seseorang yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir serta kendali emosi.
Sehingga pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku yang buruk. Kita diajarkan untuk memiliki mental yang sanggup dan kuat tentunya terhadap perubahan.
Sementara itu, Vivid Sambas, Hipnoterapis Klinis mengatakan bagaimana melakukan adaptasi yang memang saat ini kita berada di tengah-tengah pusaran perubahan.
"Kalau sebelumnya mungkin sudah dikenal di era D-Vucad. Yang terdiri dari voluntarity, uncertainty, complexcity dan ambiguity. Jadi tidak pasti, tidak jelas rumit dan mendua," ungkap Vivid Sambas .
Bahkan, lanjutnya, sekarang ada lagi perubahan disrupsi yang saat ini betul-betul berada di tengahnya, perubahan yang sangat cepat.
"Kemudian ada Diversity keberagaman dan Indonesia memang beragam sekali ada 700 bahasa daerah dan 1400 suku. Keberagaman itu relevan sekali dengan kondisi Indonesia," jelasnya.
Dia pun mengutip dari seorang ahli Alvin Toffler bahwa yang dimaksud dengan keberagaman itu tidak terliterasi di abad 21 ini adalah seseorang yang bukan tidak bisa baca tulis tetapi seseorang yang dituntut untuk terus belajar.
"Kemampuan adaptasi ini sangat penting dan kita bicara juga dengan sebuah perubahan. Di mana perubahan adalah sesuatu yang abadi. Ya seperti juga saya sudah mulai ada uban (di kepala- red)," jelasnya.
Dengan demikian, berbagai perubahan itu menuntut kita untuk mengelolanya dengan baik.
"Bahwa di dalam setiap perubahan apapun itu ya dari jomblo menjadi single, DI-PHK membuat usaha baru semuanya akan ada yang namanya fase atau tahapan-tahapan," jelasnya.
Menurutnya, begitu ada perubahan, fase pertama adalah biasanya akan ada yang namanya resistance.
"Jadi menolak perubahan itu kalau bahasa anak mudanya denial. Fase menolak perubahan itu sebenarnya fase yang wajar, sebab ada fase-fase resisten," katanya.
Begitu performanya makin turun, masuk pada fase resisten hingga fase chaos.
"Makin terpuruk lagi karena kita Denial, ada fase penolakan. Masuk fase chaos jadi bingung, kacau pusing ya stres git," ujarnya.
Ketika bingung, sampai akhirnya terpuruk di titik terendah, terjerembab di titik-titik terendah yakni paling buruk.
"Nah kemudian kita mempunyai kemampuan untuk beradaptasi secara natural. Kemudian ada yang namanya integrasi sumber daya Kita mulai bangkit ada komunitas juga dukungan sosial di situ sampai akhirnya kita bukan hanya survive tapi bahkan gampang sakit lagi dengan new status quo," paparnya.
Vivid pun mengutip sehat mental dari yang disampaikan oleh WHO di mana ada ciri 4 dari sehat mental.
"Ciri yang pertama adalah potensi diri di maksimalkan. Karena pasti kita semua punya potensi masing-masing yang bisa jadi saat kondisi yang normal," ujarnya.