Praktisi ini Minta Para Terapis Jangan Mencampur Adukkan Praktik Spa Wellness dari Berbagai Suku Bangsa
JEJAKVIRAL- Setiap daerah memiliki tradisi kesehatan dan kebugaran atau etnowellness Nusantara yang berbeda-beda, namun ada kesamaan dalam praktiknya, meski sebutannya tak sama.
Dan masing-masing daerah juga memiliki kelebihan dari praktik etnowellness tersebut.
Praktisi Spa Wellness, Yoyoh Rohmah Tambera seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Selasa (26/2/2025) mengungkapkan ketika
bicara tentang Suku bangsa di Indonesia itu jumlahnya sangat banyak dan itu adalah wujud dari kekayaan Indonesia yang sangat luar biasa.
"Dan kalau kita setiap insan di nusantara ini bangga terhadap daerahnya, bangga terhadap kekayaannya, rasa-rasanya kita akan menang dari negara-negara lain," paparnya.
"Karena apa? Menurut Yoyoh, negara lain tidak mempunyai suku bangsa yang sehebat kita.
"Alhamdulillah Indonesia Wellness Master Association (IWMA), sudah menemukenali 15 etnowellness dari berbagai penjuru nusantara. Kami memulai penemuan ini dari tahun 2012. Jadi sekian tahun baru dapet 15 etnowellness," paparnya.
Trainer sekaligus praktisi spa ini berharap setelah ini setiap daerah dari Sabang sampai Merauke mampu menggali di setiap daerahnya untuk bisa menonjolkan keunikan daripada terapi di tempat masing-masing.
"Karena saya yakin sekali bahwa semua daerah mempunyai hal-hal yang bisa dibanggakan," ucapnya
Yoyoh mengatakan bahwa para ahli penemu 15 etnowellness itu sudah menyampaikan temuan mereka.
Mulai dari Kusuk asal Sumatera Utara, Tangas dari Betawi, ada So'oso dari Madura, Peranakan Semarang itu percampuran antara Tionghoa dengan Indonesia, ada juga Batangeh dari Sumatera Barat.
Batangeh itu asli dari Sumatera Barat. Pakarnya Profesor Amri Bachtiar. Beliau itulah bersama para teman-temannya menggali betul-betul kebudayaan lokal.
"Jadi kalau kita bicara batangeh ternyata itu adalah penguapan. Dan setiap suku yang ada di Sumatera Barat pun mempunyai cara sendiri-sendiri ramuannya. Misalnya dari Solok berbeda dengan dari Painan dan seterusnya," ungkap Yoyoh.
Dalam tradisi kesehatan dan kebugaran Minang, Batangeh itu penguapannya, sementara Uruik adalah cara mengurutnya atau pijatnya
Ditegaskan Yoyoh bahwa semuanya tak lepas dari filosofi.
Jadi ketika kami dulu menggali potensi dari setiap daerah didahului dengan belajar secara antropologinya bagaimana, kenapa etnowellness tersebut.
"Yang disebut dengan pelatihan-pelatihan etnowellness ini sudah melalui penelitian. jadi enggak sembarangan. Saya mohon sekali karena ini ada beberapa daerah jadi jangan dicampur-campur. Misalnya sudah pinter seorang terapi. Tahu anatominya begini, oh pijatnya begitu. Kami sangat berharap keasliannya dijaga," papar Yoyoh.
Dia mencontohkan, Tangas Betawi sangat kuat akan back to virginnya,
So'oso dari Madura kuat akan membetulkan peranakannya, kemudian dari Sumatera Utara diawali dengan membuka aura dulu. Jadi titik-titik di wajah, kemudian di rambut di kepala dan seterusnya.
"Nah ini juga bagus nih ah saya ambil deh akhirnya menjadi gado-gado. akhirnya kehilangan lah keasliannya. Tentu kreativitas kita memang tidak dibatasi. Tetapi kita juga harus menghargai penemu-penemunya," tegasnya.
Yoyoh mengungkapkan kalau IWMA ketika menemukan 15 etnowellness ini bekerja sama dengan dukun-dukun yang ada di daerah-daerah.
Bahkan Ketua Unu Wellness & Healthcare Entrepreneur Association (WHEA), Dra. Agnes Lourda Hutagalung, CONFEC, ITEC, CIBTAC, BABTAC, Diplom, Arom, WM, CIDESCOS mendatangkan dukun langsung dari Sumatera Barat.
"Jadi saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana para dukun mulai mempraktikkan dan kita juga harus menghargai kebesaran hati daripada para dukun tersebut untuk memberikan ilmu yang luar biasa ini kepada kita semua," urainya.
Dia berharap, mudah-mudahan apa yang telah diberikan para dukun itu merupakan amal jariyah nantinya buat para suku-suku tersebut, para guru-guru tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim ya. Jadi saya mohon sekali dengan amat sangat agar tidak mencampur-campur akhirnya mengkombain kemudian mengklaim bahwa saya punya urut yang paling keren misalnya seperti itu," harapnya.
Dia kembali mencontohkan tentang wayang yang ada pakem-pakemnya.
"Ada juga sekarang wayang yang tidak diminati oleh para milenial sehingga dibikinlah kreativitas supaya milenial menyukai wayang. Kepada semua para praktisi spa, pemerhati spa untuk menghargai hal tersebut jadi keaslian daripada masa kini tolong dipertahankan. Sehingga kalau kita jual ke luar negeri mereka akan langsung kebayang nih. Oh kalau Uruik Minang di situ, kalau Tangas kuatnya di sini kalau So'oso kuatnya di tempat yang lain, begitu," tandasnya.