Skip to main content
x

Pakar Jamu dan Herbal ini Ungkap Alasan Mengapa Medical Wellness Terus Berkembang Pesat

JEJAKVIRAL - Dunia kesehatan dan kebugaran tubuh secara tradisional atau wellness terus berkembang dan dikemas secara moderen.

Sayangnya, sebagian besar orang masih percaya bahwa pengobatan tradisional atau medical wellness hanya mencakup upaya treatment preventif dan promotif saja.

Padahal, dengan kombinasi yang moderen, medical wellness juga menjadi salah satu alternatif pengobatan yang aman dan menggunakan bahan-bahan alami.

Selain untuk pengobatan, medical wellness juga menjadi cara bagi mereka yang ingin tetap cantik meski usia terus bertambah.

Tak hanya itu, medical wellness membuat orang yang sudah berumur yang bahkan lebih dari 40 tahun tetap bugar dan tampil awet muda.

"Ketika kita berbicara tentang wellness kemudian ada istilah medical wellness seperti halnya spa ada istilah medical spa. Kenapa medical wellness itu berkembang?" ucap dr Inggrid Tania, pakar jamu dan herbal dari PDPOTJI dalam sebuah webinar.

Semakin maju dan pesatnya medical wellness, menurut dr Inggrid, karena studi-studi yang sudah ada menunjukkan bahwa kebutuhan akan kesehatan dan kebugaran secara instan itu memang besar.

dr Inggrid tak menampik kalau saat ini pangsa pasar  Medical Wellness  bisa dikatakan mereka yang memiliki uang berlebih.

"Karena umumnya Medical Wellness ini pelayanan-pelayanannya tidak di cover oleh BPJS Kesehatan oleh asuransi kesehatan nasional kita," tambahnya.

dr Inggrid menjelaskan tentang  definisi daripada  medical wellness setelah  membaca dari beberapa referensi terpercaya.

Saat ini, menurutnya, ada persepsi bahwa  medical wellnes itu memang  hanya di ranah promotif dan preventif saja.

Artinya klien atau pasiennya hanya orang sehat.

"Tetapi kalau saya baca juga referensi yang lain itu ternyata tidak hanya terbatas pada orang sehat. Tapi juga termasuk orang sakit," jelasnya.

Tak hanya itu, lanjut dr Inggrid, Medical Wellness ini bisa menjadi daya tarik wisata turis dalam negeri dan mancanegara.

Dia mencontohkan misalnya ada turis yang datang ke Indonesia dan dia  tetap bisa beraktivitas,  bisa traveling, tapi dia sudah ada penyakit.

"Misalnya dia ada diabetes  yang cukup terkontrol misalnya. Ada juga yang kritis. Jadi medical wellness pelayanannya sebetulnya mencakup juga pada orang sakit. Tapi  tetap ada aspek rehabilitatif  juga," jelasnya.

Kalau medical wellness  dibatasi pada upaya  promotif preventif nanti pasarnya juga jadi kecil.

"Kalau baca  referensi dari luar itu mencakup semua upaya kesehatan. Sebetulnya tidak hanya pada orang sehat tapi juga pada orang sakit," tandasnya.

 

 

 

 

Daerah