Melalui Ajang IWTIF Tiap Tahun, Bangkitkan Mental Para Pelaku Industri Spa Wellness Nusantara
JEJAKVIRAL - Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) rutin digelar setiap tahunnya sejak 2021 silam.
Ajang festival tingkat dunia ini justru dimulai sejak masa pandemi Covid-19 yang melanda dunia.
Situasi tersebut juga mendorong tumbuhnya industri pariwisata wellness yang menyadarkan bangsa ini untuk tetap menjaga kesehatan dan kekuatan imun tubuh melalui praktik kesehatan tradisional.
Board of ETNA (Ethnowellness Nusantara), Dra Agnes Lourda Hutagalung seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Sabtu (19/7/2025) menceritakan awal mula ajang festival internasional itu digelar.
"Jadi waktu itu 2021 saat Covid-19, Gayaspa di mana saya bekerja juga harus tutup. Nggak tega industri ambruk, jadi kita memikirkan bagaimana caranya untuk tetap bisa berdiri tegar," paparnya.
Menurutnya, idenya itu justru untuk mendukung dan membangkitkan mental teman-teman para pelaku industri pariwisata di bidang spa.
"Maka Gayaspa harus mampu waktu itu memberi contoh pada teman-teman untuk terus berdiri," terangnya
Mendapat dukungan dari berbagai teman dan stakeholder terkait, juga esensiaspa apotechery, mengeluarkan ramuan esensial oil untuk rileks, meningkatkan imunitas antibodi pernafasan dan lain sebagainya.
Saat ini, lanjutnya, tujuan dari IWTIF itu adalah untuk menggairahkan sektor usaha wellness semampu dan sekecil apapun.
"Kita tahu bahwa di Bali lebih banyak sekali spa, di Legian sebenarnya mungkin refleksi kemudian menawarkan happy ending treatment-nya," ungkap Lourda.
Namun ditegaskannya, Etnaprana memang harus mengatakan pada dunia bahwa kita bukan itu.
"Kita adalah budaya kesehatan Indonesia. Nah inilah suara yang ingin kita sampaikan melalui IWTIF setiap tahunnya," jelasnya.
Tujuan dari IWTIF itu sendiri, sambung Lourda, adalah untuk mengetuk hati pemerintah yang sudah disodori hasil penelitian dari para researcher dari Indonesia Wellness Semester Asosiation (IWMA)
Di dalam IWMA terdapat para profesional di bidangnya. Ada Prof Amri Bachtiar, Prof Rusmin Tumanggor, Prof Mangestuti Agil dan lain sebagainya.
Dalam tahap berikutnya, IWMA juga akan membuat SKKNI, meski dagangan Made in Indonesia origin ini belum bisa menyaingi kehebatan tradisi kesehatan luar negeri di benak masyarakat.
"Mungkin namanya TCM, Ayuverda. Jadi kita terus berjuang untuk menegakkan bendera merah putih di sini!" tegasnya.
Lourda mengatakan, sebagai komitmen, Gayaspa memulai mengimplementasikannya dengan segala risikonya. Meminggirkan yang namanya Thai Massage, Swedish Massage dan lainnya
"Semua kita singkirkan dan kita kerek bendera merah putih dan ternyata itu mendapatkan tanggapan yang cukup baik, terutama untuk masyarakat kalangan atas," tambahnya.
Jadi, pihaknya mencoba menegakkan apa yang diteliti oleh para ahli dari IWMA menjadi suatu yang bisa dibanggakan dan esensial apotechery dalam produk-produknya juga membuat produk bersertifikat klinisnya.
Ke depan, melalui WHEA, dia mengajak semua pelaku industri wellness, seluruh pelajar dan profesional untuk bangkit bersama melalui industri wellness ini.
Lourda mengaku sedih dengan beberapa teman yang tadinya usaha di industri spa, lalu kemudian kalah dengan berbagai situasional yang ada.
Di pun menawarkan diri dan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bangga dengan budaya kesehatan Indonesia.
"Dan kita juga ingin mengekspor benefit dari etnaprana wellness Indonesia ini ke luar negeri. Rupanya sejak 2021 sampai sekarang sudah banyak daftar tunggu. Ada 13 negara yang ingin membuka Etnaprana di negara mereka," tandasnya.