Skip to main content
x

Bertemakan "Etnaprana Wellness Nusantara untuk Dunia", Event IWTIF 2025 Kembali Digelar untuk Kali Kelima

JEJAKVIRAL - Di tengah suasana Indonesia yang sangat memperihatinkan tak menyurutkan kegiatan Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2025 digelar.

Diharapkan, acara yang sudah berlangsung untuk kelima kalinya ini menjadi sarana pemulihan bangsa ini setelah melewati minggu-minggu yang mendebarkan.

Demikian harapan  yang disampaikan Sekjen Board of Etnaprana, Vivid Sambas saat membuka acara IWTIF 2025 pada Rabu (3/9/2025) siang pukul 13.00 - 15.00 WIB

"Penyelenggaraan festival internasional yang kelima ini  sebuah capaian yang luar biasa. Selama satu bulan penuh di September ceria ini,  kita akan bersama-sama mengikuti rangkaian webinar dengan narasumber terbaik. Mereka akan membahas wellness nusantara sebagai sumber kesehatan, kebahagiaan dan daya tarik wisata Indonesia di mata dunia," papar Vivid Sambas.

Dikatakan Vivid, kendati ujian berat yang sedang dihadapi  bangsa ini, acara IWTIF diharapkan tetap dengan rasa penuh semangat.

Menurutnya, suasana yang cukup memprihatinkan dan mendebarkan  itu merupakan sebuah fase yang perlu  dilalui bersama sebagai anak bangsa.

Segenap panitia gelaran IWTIF, Board of ETNA menyampaikan turut berduka untuk seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka dari berbagai pihak, termasuk aparat keamanan.

"Semoga negara kita segera melalui fase ini dengan sebaik mungkin," harapnya optimis.

Acara IWTIF tahun ini dihadiri oleh para pelaku industri pariwisata, baik di dalam dan di luar negeri, para pakar kebudayaan, kesehatan dan kebugaran khas nusantara. 

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa untuk bangsa, sambutan dari ketua IWTIF 2025, Yulia Himawati dan serangkaian kegiatan webinar terkait Etnaprana Nusantara (ETNA).

Dalam sambutannya, Ketua Panitia IWTIF, Yulia Himawati menyampaikan rasa hormatnya kepada hadirin, para profesor, pengusaha spa wellness Indonesia para manager dari berbagai hotel.

"Kita dapat bertemu kembali di dalam keadaan sehat dan bahagia menghadiri rangkaian acara webinar series  kegiatan dari Indonesia Wellness dan International Festival kelima dengan tema "Etnaprana Wellness Nusantara untuk Dunia".

Diungkapkan Yulia, kegiatan festival ini  pertama kali diadakan pada tahun 2021 yang lalu digagas oleh tiga asosiasi yakni Indonesia Wellness Master Association (IWMA), Wellness and Healthcare Association (WHEA) dan Indonesia Spa Profesional Association (IWSPA).

Kemudian  di tahun 2024 mulai banyak yang mendukung kegiatan ini antara lain yang tergabung di dalam Board of Etnaprana.

Board of ETNA ini merupakan kumpulan atau Konfederasi yang terdiri dari 40 asosiasi yang bergerak  di bidang wellness Indonesia.

Dikatakan Yulia bahwa berjalannya acara tahunan tingkat internasional ini merupakan wujud  atau karya nyata dari anak bangsa yang cinta akan budaya kesehatan nusantara.

"Kita sepaham tentunya tentang kesehatan tradisional Indonesia yang berbasis budaya sangatlah kaya. Para leluhur  kita  sangat pandai bagaimana menjaga kesehatan kebugaran tubuh," terangnya.

Para leluhur tersebut, lanjut Yulia, memiliki kemampuan perawatan kesehatan  secara preventif dan promotif 

"Dengan berbagai cara, para leluhur mengajarkan kita untuk merawat tubuh baik itu melalui pijatan, minum-minuman herbal, rempah-rempah  atau baluran  berupa lulur,  boreh,  penggunaan aroma atau  wewangian sebagai terapi, baik yang dihirup misalnya melalui uap atau penguapan ataupun  berupa pengasapan yang dialihkan ke seluruh tubuh demi menjaga kesehatan dan kebugaran, baik jasmani maupun rohani," urainya 

Begitulah, menurut Yulia, para leluhur  telah banyak mengajarkan, memberikan bukti-bukti otentik dan telah ditemukenali oleh para ahli  yang  tergabung dalam asosiasi IWMA.

Saat ini telah dilakukan riset sebanyak 15 etno atau suku bangsa  antara lain dari Sumatera Utara yang dikenal oukup,  Sumatera Barat dikenal Batangeh Minang,  Madura dikenal Micet. 

Dari Jawa dan Bali yang   sudah tidak asing lagi di mana orang selalu mengatakan spa Jawa dengan lulur atau boreh  pengaruh Bali.

Lalu  sampai juga ke  Jawa  ada peranakan Semarang, di mana  di situ juga memang asimilasi budaya  Jawa  Indonesia dengan budaya dari Tiongkok.

Dari Kalimantan  juga dikenal berbagai  treatment  atau pelayanan kesehatan tradisional. Sulawesi hingga ke Papua dan Maluku. 

"Itu semua tentunya mengandung kearifan lokal dari setiap daerahnya masing-masing," jelasnya.

Dengan demikian, sambung Yulia,  kita patut berbangga hati dengan warisan para leluhur kita.

Di event tersebut, Yulia  memohon kepada para praktisi spa,  pengusaha spa wellness  para profesional atau sumber daya manusianya di Indonesia mau mempelajari Etnaprana sebagai layanan unggulan di tempat usaha Anda.

Karena itu, tegasnya, jangan selalu bangga dengan produk-produk asing yang sudah tidak asing lagi  dikenali oleh para penggemar spa wellness di Indonesia maupun di mancanegara. Seperti Swedish Massage, Shiatsu Jepang, Ayuverda India, Thai Massage dan sebagainya. 

"Tapi itu semua produk budaya asing. Kita perlu mensupport  upaya pemerintah Indonesia yang tengah mengembangkan  wellness tourism atau yang dikenal dengan pariwisata kesehatan dan kebugaran yang merupakan salah satu trend global yang berkembang pesat," papar ya.

Sekali lagi, Yulia menegaskan bahwa  Indonesia dengan kekayaan alam, budaya dan kearifan lokalnya memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi destinasi keunggulan di bidang wellness tourism tersebut.

Berbagai tradisi perawatan tubuh, ritual kesehatan, serta praktik penyembuhan tradisional yang diwariskan oleh secara turun-temurun merupakan aset bangsa yang bernilai tinggi.

Maka, sebagai upaya memperkenalkan dengan mengangkat potensi tersebut ke level internasional festival IWTIF tahun ini hadir kembali  dengan rangkaian kegiatan melibatkan para pemangku kepentingan.

"Tentunya  materi-materi kita yang dimulai sejak  tanggal 3 September hingga 30 September menghadirkan para pembicara yang profesional di bidangnya, juga dengan materi yang sangat menarik untuk kita kaji dan kita dengarkan," pungkas Yulia.

 

 

 

Daerah