Daya Jual Pariwisata di Bidang Tradisi Ritual Jamu Jampi Usodo
JEJAKVIRAL - Jamu menjadi salah satu nilai jual setiap tradisi kesehatan dan kebugaran suku-suku bangsa yang ada se- nusantara.
Namun demikian, agar jamu menjadi memiliki daya saing negara lain harus mengubah paradigma yang telah berjalan di etnaprana.
"Kalau kita bicara masalah kebudayaan, jamu itu merupakan budaya Kesehatan sejak Belanda masuk beberapa ratus tahun silam," ujar Pakar Jamu Mayjen (Purn) Daniel Tjen di acara FGD II Etnaprana Betawi di Jakarta, pekan lalu.
Daniel Tjen mengutarakan bagaimana negara menjadi kuat karena mempertahankan tradisi minuman kesehatannya.
"Jepang, Tiongkok, Korea Selatan banyak negara lain justru memperkuat budaya minuman sehat mereka. Karena itu kita harus mengubah paradigma budaya-budaya lokal kita," tambahnya.
Daniel Tjen menegaskan bahwa jamu bisa dipraktikkan di masing-masing daerah. Karena memang setiap suku bangsa memiliki minuman herbal yang khas.
Dalam ekologi etno medika, lanjut Daniel Tjen, sebetulnya jamu memiliki nilai jual paling tinggi untuk menarik pasien luar negeri datang ke Indonesia.
"Kan nggak mungkin orang Amerika, Australia datang berobat ke sini (Indonesia) hanya disediakan pelayanan kesehatan konvensional. Mereka datang kalau ada sesuatu yang berbeda," ujarnya.
Maka, lanjutnya, kata kuncinya adalah jamu harus mengedepankan perubahan paradigma.
"Kita semakin sadar betapa pentingnya kebugaran dan di situ ada filosofi jamu yang berjampi usodo," paparnya.
Kedua, melakukan kolaborasi dengan banyak teman-teman yang memang fokus pada pengembangan jamu.
"Inilah solusi yang tepat untuk mengendapkan promosi," jelasnya.
Menurutnya, yang bisa dijual kepada turis asing soal jamu bukan sekadar untuk kesehatan fisik dan mentalnya saja.
"Tapi ada tradisi ritual jampi usodo. Orang luar akan tertarik untuk melakukan Etna medik di Indonesia begitu ada tawaran praktik kesehatan yang berbeda. Minum jamu sambil dijampi-jampi atau didoakan," tandasnya.