Skip to main content
x

Asal Usul Budaya Kesehatan dan Kebugaran Peranakan Semarang

JEJAKVIRAL -Tradisi Peranakan Semarang atau etna Peranakan Semarang merupakan perpaduan budaya kesehatan dan kebugaran bagi orang Semarang.

Budaya itu muncul karena ada keterpaduan antara kebiasaan  etnis Tionghoa dengan budaya lokal Jawa dan pengaruh Eropa.

Tradisi Peranakan Semarang mencerminkan harmonisasi budaya yang kaya dan unik di Kota Semarang.

"Filosofi Peranakan Semarang adalah salah satu etnis di Indonesia yang asal usul leluhurnya berasal dari Tiongkok," papar trainer spa wellness Yoyoh Rohmah Tambera dalam webinar Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) pada pekan lalu.

Dari percampuran antaretnis inilah  mereka menyebut dirinya dengan istilah tenglang atau hokkien berasal dari kata anak yang artinya melahirkan anak.

"Ada juga istilah Tentang atau Tiochiu dan juga istilah Tengyin alias Hakka," jelas Yoyoh.

Karena ada kalimat anak-anak dari pernikahan campuran lahir di Indonesia dan sebagian besar berdarah campuran China, maka terciptalah Chinese massage atau pijat yang berasal dari China.

"Terapi pijat ini dengan menggunakan teknik olah tubuh yang tinggi menyerupai prinsip-prinsip seperti akupuntur dan akupresur," tambah Yoyoh.

Ada beberapa manfaat yang didapat dari tradisi pijat China ini dalam meningkatkan energi dan imun, serta meningkatkan kekuatan otot.

Manfaat lainnya adalah bisa mengembalikan metabolisme tubuh, mengurangi stres dan rasa lelah mengurangi tekanan darah dan mengembalikan keseimbangan hormon.

"Nah kalau peranakan Semarang ini keunikannya adalah lebih kepada rahim kita (wanita).  Jadi sesuai dengan namanya peranakan berasal dari kata anak tadi," ujar Yoyoh.

Dari beragam informasi yang didapat, berikut beberapa contoh tradisi Peranakan Semarang:

Pertama, Makanan Khas.

Peranakan Semarang terkenal dengan kuliner unik seperti lumpia Semarang, bandeng presto, dan es teler.

Kedua, Bahasa.

Mereka menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Melayu dengan campuran kata-kata Hokkien.

Ketiga, pakaian adat.

Pakaian adat Peranakan Semarang dipengaruhi oleh gaya Tionghoa dan Jawa, seperti kebaya dan batik.

Keempat, Perayaan.

Mereka merayakan perayaan Tionghoa seperti Imlek dan Cap Go Meh dengan sentuhan budaya lokal.

Kima, Arsitektur.

Rumah-rumah Peranakan Semarang memiliki arsitektur unik yang memadukan gaya Tionghoa, Jawa, dan Belanda.

 

 

Daerah