Melancarkan Peredaran Darah dan Getah Bening dengan Pijat Dayak
JEJAKVIRAL - Suku Dayak memiliki tradisi kesehatan atau Etnaprana Nusantara (ETNA) dengan sebutan Batimuh.
Batimuh ini merupakan perawatan kecantikan bagi seorang mempelai perempuan ketika akan melangsungkan pernikahan.
Tak hanya Batimuh, tradisi Etnaprana Dayak juga dikenal adanya Bakasai. Ini istilah suku Dayak untuk menyebut luluran.
Suku Dayak itu sendiri terdiri dari beragam suku. Di antaranya Dayak Tunjung, Dayak Benuaq dan beberapa lainnya, di antaranya Dayak Kenyah, Dayak Bentian, Dayak Modang dan Dayak Kenyah yang berada di Kutai Barat dan Kutai Kartanegara.
Kemudian ada Dayak Bahau dan Dayak Penihing di Mahakam Ulu berbatasan dengan Malaysia. Di Utara Dayak Kayan d(Wehea) i Kutai Timur dan Dayak Punan (Kelay Segah) di Berau.
"Keunikan suku Dayak mereka tinggal di pinggiran sungai Mahakam," ujar Dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Samarinda Kalimantan Timur Dr dr Swandari Paramita, seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Rabu (14/4/2025).
Dr dr Swandari Paramita, soal perawatan tradisional Suku Dayak bukan hanya Batimuh. Tapi ada pijat Dayak, Bakassai Dayak dan Bapapai Dayak.
Pijat Dayak tidak spesifik dibandingkan dengan pijat tempat lain. Terus juga merupakan langkah-langkah pengusapan dan penekanan menggunakan anggota gerak tubuh seperti tangan, jari, siku dan atau alat bantu lainnya pada permukaan tubuh.
Pijat Dayak ini memberikan efek stimulasi dan relaksasi, melancarkan peredaran darah dan getah bening, penguatan sistem tubuh lainnya untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran.
Tradisi kesehatan dan kecantikan lainnya, di etnis Dayak dikenal namanya adalah Bakassai, seperti lulur.
"Ini adalah proses aktivitas pembersihan badan dengan formulasi rempah tradisional yang telah dilakukan secara turun temurun. Tujuan perawatan ini untuk mencerahkan kulit, membersihkan tubuh, memberikan keharuman dan mencegah bau badan," papar Dr dr Swandari Paramita.
Ada lagi namanya Bapapai. Itu adalah gentong air berisi rempah dan bunga yang dimandikan ke seseorang yang merupakan suatu ritual.
"Batimuh Dayak itu sendiri adalah penguapan atau steam berupa konversi dari cairan ke uap di bawah suhu didih cairan. Dikenal juga dengan mandi uap," jelasnya.
Soal tradisi ini ada filosofinya Batimuh dalam bahasa Dayak dan Batimung dalam bahasa Banjar. Karena kedua suku ini saling berinteraksi.
Bermula dari sebuah cerita putri Junjung Buih, anak dari seorang kepala Suku Dayak yang muncul di atas sungai.
Kecantikannya mempesona seorang pria dari Suku Banjar bernama Lambung Mangkurat yang saat itu sedang melakukan Tapabrata (Balampah).
Berdasarkan cerita ini maka Batimuh atau Batimung menjadi tradisi untuk merawat menghilangkan aroma tak sedap. Tradisi ini seringkali dilakukan sebelum melangsungkan pernikahan.
"Kalau di Banjar di Kalimantan Selatan tidak hanya untuk pernikahan ini pun sering dilakoni untuk menjaga kecantikan membuat badan lebih segar dan sebagai proses mandi uap atau spa yang biasa dilakukan etnis lain di Indonesia," tambahnya.
Karena proses Batimuh ini membuang keringat dari badang dengan cara diasapi serta ditambahkan ramuan alami untuk memberikan keharuman kepada badan orang yang ditimung.
"Batimuh juga menjadi syarat bagi calon pengantin untuk menghadapi pesta perkawinannya nanti. Tujuannya agar mempelai saat bersanding di pelaminan tidak mengeluarkan bau keringat, tetapi berganti menjadi bau harum yang menambah pesona," tandasnya.