Singgasana Hadirkan Romansa Musik Rock dengan Bait Chorus Kongkalikong Pelakor Pengincar Harta Berbungkus Lelang
JEJAKVIRAL
Belum hilang dari ingatan. Genap setahun huru hara terjadi. Memang bukan sebuah kerusuhan. Tapi keramaian yang membuat seorang ibu bernama FM Valentina trauma.
Kala itu, pagi hari, tepat tanggal 23 Maret 2021. Suasana Jl Pahlawan Trip, Oro-oro Dowo, Kota Malang, terasa lengang.
Matahari baru seperempat memancarkan sinar. Tiba-tiba situasi di komplek perumahan itu jadi riuh.
Dari berbagai ujung jalan dan perempatan perumahan elite tersebut, serombongan manusia datang. Mereka berseragam. Jumlahnya ratusan.
Sebagian besar menggunakan mobil. Ada juga truk yang mengangkut puluhan orang. Tapi tak sedikit juga yang berjalan kaki. Bahkan ada anjing-anjing pelacak.

Ya, mereka adalah aparat negara. Dengan seragam berbeda-beda, mereka berasal dari beberapa instansi.
Di bagian lain, ratusan rombongan lainnya muncul. Mereka berpakaian jauh berbeda. Tampang-tampangnya bringas. Berkaos warna warni. Tak jelas dari mana asalnya.
Serempak, kesemuanya berhenti di depan sebuah rumah bernomor Blok B 8. Seperti ada yang mengatur, salah seorang dari mereka meminta sang pemilik rumah keluar.
"Buka pagar! Kami minta keluar rumah dengan sukarela! " teriak seseorang dari kejauhan. Beberapa di antaranya terlihat menggoyang-goyangkan pagar.
Dari dalam rumah, janda dua anak bersama cucu dan seorang pembantu awalnya tak menggubris. Dia tak bergeming dari tempatnya, meski teriakan dari luar semakin kencang. Dari sela-sela hordeng, pandangannya jauh melempar keluar.
Ia tak terkejut dengan kedatangan mereka. Sebab beberapa hari sebelumnya, ibu yang dikaruniai dua anak sukses jadi dokter itu sempat menerima surat. Isinya; Valentina diminta angkat kaki dari rumah warisan orangtuanya.
"Saya nggak takut! " ucap Valentina saat itu.
Sambil terus berdoa, matanya tak berkedip memandang ratusan orang yang mengepung rumahnya. Amarahnya meledak, tatkala beberapa orang mulai merusak pagar garasi.
Gembok dicongkel paksa. Diiringi teriak demi teriakan, akhirnya jebol juga. Valentina mulai bergerak. Sekejap, ia buka pintu rumah.
"Eksekusi sudah dibatalkan dengan Kasasi 3622! Ini mafia lelang. Barang mana yang dilelang? Saya ingin tau isi putusan tersebut!" bentak Valentina di hadapan ratusan orang itu.
"Ini perintah ketua pengadilan! Kami hanya melaksanakan eksekusi pengosongan, ayo! " balas seseorang yang belakangan diketahui sebagai juru sita pengadilan sambil mengajak ratusan orang itu masuk.
Valentina pasrah. Suaranya tenggelam oleh teriakan-teriakan ratusan petugas yang merengsek ke sudut-sudut rumahnya.
Tapi ia tegar. Tatapannya nanar saat harta benda dari dalam rumah itu dikeluarkan paksa oleh rombongan orang berkaos nano-nano.
"Sudah suami saya direbut orang, masa' rumah saya juga jadi komoditi sasaran yang mau diperebutkan WIL dan keluarganya, " catus Valentina dalam suatu kesempatan saat mengenang kejadian getir tersebut.
Sejatinya, drama ini panjang. Dimulai dari 30 tahun silam. Sebuah kisah nyata. Percintaan yang dibumbui perselingkuhan dan perebutan laki orang alias pelakor dan berakhir perebutan harta miliknya.

Kisah inilah kemudian menginspirasi Singgasana Band untuk membuat sebuah lagu. Lagu romansa bergenre rock, sarat dengan cinta, namun bernada sindiran pada ketidakadilan hukum.
"Dengan mengucap syukur pada Tuhan YME, Singgasana Band akhirnya berhasil merilis kembali single keduanya, berjudul "WHYT". Waktu Hakim Yang Terbaik, " ungkap Eka Pangulimara, gitaris Singgasana yang menuliskan lirik "WHYT", Jumat (18/3/2022).
Eka mengaku amat bersimpati setelah banyak mendengar kisah dari sosok ibu yang pernah melangsungkan kehidupan berkeluarga, namun kini telah menjanda.
Kisah tersebut , kemudian diekspos dalam sebuah lirik lagu. Memberi kesan epik di zamannya. Sekitar tahun 90'an peristiwanya.
Saat itu, Valentina dan pasangannya melangsungkan pernikahan. Dalam ikatan kasih itu, keduanya membuat perjanjian pisah harta. Yang tidak bisa dibatalkan oleh siapa pun dan hukum mana pun.
Tragisnya, sesudah keduanya bercerai, palu hakim tetap saja mengetok putusan untuk membatalkan perjanjian pisah harta tersebut menjadi gono-gini.
Tak berhenti di situ, persoalan makin kompleks. Ia dan mantan suaminya saling gugat hingga di MA RI.
Sebuah kasasi yang sudah diputuskan inkrah sempat memenangkan Valentina. Perlawanan juga dilakukan sang mantan.
Bekas suaminya itu melakukan PK dan mengembalikan putusan pengadilan, persis seperti putusan pengadilan tingkat pertama. Bahkan tanpa novum atau bukti baru dalam putusan tersebut.
Hingga si mantan menggugat cerai dan pergi bersama WIL-nya. Justru belakangan, si WIL alias Pelakor tersebut menjadi pemohon lelang atas harta benda yang dimiliki Doktor Hukum dan pernah menjadi pengacara kondang di kota Malang.
Kongkalikong pengincar harta yang pernah berlumur cinta dan beraroma pengkhianatan itu diceritakan Eka dalam bait chorusnya.
"....Katakan pada semesta sekalipun langit berbicara, biarkan waktu kan berputar, cintaku hilang dan melayang. Luka-luka yang pernah ada, kan ku bawa takkan terlupa. Hanya waktu yang mengakhiri, hakim terbaik dan yang pasti..... "
Menurutnya, ini sebuah ungkapan dan harapan untuk mengakhiri polemik dalam bingkai hukum yang tak berkesudahan.
"Dan satu hal yang pasti, rasa keadilan dan kemanusiaan, tentang kepastian hukum yang pernah tersembunyi, menjadi ending kisahnya yang hingga kini menggantung, " tambahnya.
Pada single kedua ini, lanjut Eka, akan dibingkai dalam sebuah album EP berjudul 'Tak Terbatas'. Lagu ini dapat diakses di sejumlah platform digital, sembari bersiap memproduksi video klip beberapa lagu dalam album tersebut.
Lima nomor lagu dalam album yang bakalan dirilis nantinya, kesemuanya dituliskan Eka.
Song writer yang sekaligus aransemen musik bersama personil lainnya, Pungu Sinaga (vokalis), Albertus Wicaksono (keyboardis), Aditya (bassist), dan M Fadli Baqi (drummer).
ONE