Perlu Terobosan Agar Pelaku Usaha Bidang Spa Wellness Bisa Menjangkau Seluruh Lapisan Masyarakat
JEJAKVIRAL -Saat ini, spa wellness atau tradisi kesehatan dan kebugaran tubuh tradisional justru masuknya ke kelas premium.
Sebab, mulai dari terapisnya yang harus bersertifikasi dan melalui proses uji kompetensi dan pengusahanya juga harus berbadan hukum, berbasis risiko dan juga bersertifikasi melalui SKKNI.
Dengan demikian, harus ada terobosan baru agar spa wellness ini juga menjangkau berbagai kalangan.
Spa wellness yang merupakan bagian dari destinasi wisata tak hanya menarik turis mancanegara saja, tapi juga turis-turis lokal.
Tentu saja para turis lokal ini juga yang berasal dari berbagai kalangan menjadi bagian dalam mengenalkan kearifan lokal agar tetap terus terjaga sepanjang masa.
Tidak menutup kemungkinan, turis-turis lokal juga masih minim pengetahuan tentang apa itu spa wellness yang diberi label Etnaprana Nusantara atau ETNA.
Penilaian ini disampaikan akademisi dari Universitas Trisakti Jakarta, Joko Haryono dalam Forum Group Discussion (FGD) II pada pekan kemarin.
Di hadapan Wakil Gubernur DKJ Rano Karno dan Founder Board of ETNA Dra Agnes Lourda Hutagalung, Joko menegaskan bahwa dirinya dulu adalah pelaku industri pariwisata.
Sejak terjadinya revolusi industri menjadi digital, pasar Pariwisata dari bidang spa wellness menjadi peluang besar sebagai pendapatan negara.
"Sejak 10 tahun terakhir kita hanya bisa mengcopy paste dari kebudayaan barat. Dari catatan saya sebagai seorang industri dan sekarang masuk jadi bagian akademisi melihat bahwa produk dari Wellness ini memang premium," paparnya.
Disebut premium, menurut Joko karena memang spa wellness ini hanya tersedia di tempat-tempat yang terbilang mewah dan berkelas.
Spa wellness saat ini memang banyak dijual sebagai produk pariwisata di hotel-hotel dan tempat spa moderen.
Namun demikian, tidak menutup kemungkinan kalau spa wellness sejatinya dilakukan juga oleh para pelaku terapi tradisional di desa-desa atau di kampung-kampung.
"Pasarnya memang sudah jelas. Mungkin premium. Kecuali kalau mau main tradisional seperti Haji ining yang berpraktik di Cianjur," paparnya.
Joko mengulas tentang praktik terapi pijat yang dilakukan haji Ining dan puluhan orang tenaga terapi pijat.
Menurutnya, Haji Ining ini punya dua hektar 2 hektar lahan. Dan terdapat sejumlah 38 kamar semuanya untuk pijit. Pijatnya khusus .
"Boleh digoogling ada namanya Haji Ining Cianjur. Kebetulan saya salah satu penggemarnya," ujarnya.
Yang menarik, lanjut Joko, setiap pasien yang datang dan dipijat, meski memiliki penyakit insomnia, pasti tertidur.
"Kalau diurut dijamin pasti tidur. Ini menarik sekali. Karena pasarnya justru semua kalangan. Bagi kalangan atas, menengah atau bawah," ujarnya.
Para terapisnya pun, sambung Joko, kaum menengah yang memang notabene mereka tidak lagi begitu lulus sekolah.
"Mereka pengin bekerja tapi enggak ada yang bisa dilakukan akhirnya menjadi terapis di tempat Haji Ining," ujarnya.
Joko memastikan bahwa teknik pijatnya memang asli dari Jawa Barat yang merupakan salah satu tradisi kesehatan dan kebugaran berbasiskan kearifan lokal.
Dikatakan Joko, butuh formula khusus untuk memajukan wellness ini agar bisa menjangkau semua kalangan.
Selain sebagai pendapatan negara, juga menjadi lapangan kerja bagi semua orang yang memang memiliki keahlian di bidang terapi urut dan pijat.
Para terapis yang memang berasal dari kalangan bawah tentu tidak mengenal itu sertifikasi kompetensi. Tapi mereka bisa belajar secara otodidak.
"Mari kita pikirkan bersama agar mendapatkan dukungan dari pemerintah dan para terapis itu tak hanya terampil dalam memijat dan urut, tapi juga dibantu agar menjadi terapis profesional," tandasnya.