Ini Alasan Variasi Ramuan Jamu Madura Khusus Wanita jadi Porsi yang Besar
JEJAKVIRAL - Siapa sangka pembuatan jamu tradisional Madura dinilai secara farmasi sangat terjamin kualitasnya.
Padahal, ramuan jamu yang dibuat itu sangat tradisional dan dilakukan oleh mereka yang umumnya kaum ibu-ibu memang berasal dari Keraton Sumenep.
Guru Besar di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr (Apt) Mangestuti Agil seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Kamis (7/3/2025) mengungkapkan pengalamannya berkaitan dengan penelitian yang ia lakukan sejak tahun 2007.
"Saya jatuh cinta kepada Madura . Madura menjadi rumah kedua saya setelah Surabaya," ucap Prof Mangestuti Agil.
Apalagi, sambungnya, saat ini ada kemudahan untuk pergi ke beberapa tempat di pulau Madura karena transportasi yang lebih mudah.
"Kita mudah sekali menjangkau semua tempat di kawasan Madura ini dengan kendaraan bermotor roda dua ataupun roda empat," ujarnya.
Prof Mangestuti Agil pun menceritakan tentang jamu untuk kesehatan wanita.
"Karena saya tahu pasti bahwa di antara berbagai variasi ramuan Madura maka jamu untuk wanita menjadi porsi yang sangat besar dan dominan," katanya.
Prof Mangestuti Agil punya alasan mengapa ia memfokuskan penelitiannya pada jamu yang dikelola oleh anggota keluarga keturunan keluarga keraton Sumenep.
"Berdasarkan pengalaman, penelitian yang saya lakukan di beberapa tempat, saya yakin keraton adalah tempat di mana berkembangnya kebudayaan yang sangat tinggi derajatnya," papar Prof Mangestuti Agil.
Sehingga ketika ia memulai penelitian ini ramuan-ramuan yang ia jumpai itu sedikit sekali data yang tertulis.
"Jadi semua diperoleh melalui lisan.
Wilayah untuk ruang gerak saya pada waktu itu adalah yang disebut misalnya 5 rumah besar. Di lingkungan yang memang pada era kejayaan atau pemerintahan raja tertentu di sana itu sudah membagi wilayah di luar Keraton itu untuk putra-putranya sehingga disebut 5 rumah besar," jelasnya.
Karena keturunan keluarga keraton maka kita akan menjumpai nama-nama yang melukiskan kekerabatan Keraton mereka
"Kalau di Jawa Ndoro Raden Ayu, Raden Ajeng. Ketika saya memulai itu saya hanya menjumpai 10 peracik jamu dari keluarga keraton Sumenep yang memang ilmu pengetahuannya sudah turun temurun di beberapa area di kawasan yang disebut sebagai 5 rumah besar di lingkungan Keraton Sumenep," urainya.
Yang ditemui dalam penelitiannya, Prof Mangestuti Agil menyebutkan bahwa ini adalah salah satu generasi ketiga. Padahal dia mulai mengerjakan generasi pertama yang saya jumpai.
"Tiga tahun lalu sudah masuk ke generasi yang ketiga," tambahnya.
Dia pun menemukan seorang ibu bernama Mariam dengan kondisi mata buta tapi mempunyai keahlian yang luar biasa dalam membuat ramuan jamu.
Semua tindakan Bu Mariam mulai dari memilih bahan jamu, kemudian mencampurkannya, mengolahnya termasuk meracik
"Ini ada sedikit contoh saja dari yang menurut saya adalah istimewa. Jadi salah satu bagian dari perawatan kulit di lingkungan keluarga Keraton yang saya jumpai dari beras dan beras yang dihanguskan. Beras hangus adalah karbon aktif yang tentunya menyerap kotoran lebih daripada yang tidak," urai anggota Indonesia Wellness Master Association (IWMA) ini.
Prof Mangestuti Agil pun menceritakan ketika memulai aktivitas penelitian itu produk-produknya dikemas sangat sederhana, tidak ada kemasan yang terlihat mewah.
"Label-label yang diterapkan bahkan mungkin cenderung tidak lengkap, itu maksudnya tidak ada waktu kadaluarsa. Ini yang tak bisa dilepaskan dari kaidah kesehatan mental," terangnya.
Prof Mangestuti Agil pun menyimpulkan bahwa gambaran pembuatan mereka itu menggunakan teknologi-teknologi yang sangat tradisional
Misalnya dalam membuat tepung beras, ritualnya sangat panjang. Menggunakan kain dengan tekstur tertentu. Direndam dalam batas waktu tertentu.
Dan menurutnya, hasilnya pasti bagus. Tepung beras yang bersih dengan kehalusan yang sesuai dengan ramuan atau produk kosmetika misalnya.
"Sebagai seorang farmasi, justru langkah ini yang benar. Karena kalau kita membuat sebuah produk, apalagi kosmetik syaratnya bahan pembawanya betul-betul terjamin kualitasnya. Ini kami diajarkan langsung setelah pendekatan sekian tahun. Hampir 10 tahun baru memberikan rahasia. Saya sangat bersyukur," ujarnya.