Skip to main content
x

Gawat! Kemenkes Mencatat 54 Juta Orang Indonesia Alami Gangguan Mental, Baru 4,9 Juta Ditangani Medis

JEJAKVIRAL - Kesehatan mental saat ini menjadi isu global yang semakin mendapat perhatian di berbagai negara belahan dunia . 

Tercatat,  dari data Kementerian Kesehatan di tahun 2023 prevalensi gangguan mental emosional, seperti kecemasan stres berat dan depresi mencapai sekitar 20% dari total populasi penduduk Indonesia.

"Diketahui,  populasi penduduk Indonesia  sekarang 270 juta penduduk. Kalau dihitung-hitung 20% ya berarti 54 juta kurang lebih itu," papar Ketua Satu Indonesia Wellness Spa Association (IWSPA), Ir Dian Maulana Said di acara webinar Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) pada Kamis (4/9/2025) siang.

Menurutnya, baru 9% penderita gangguan depresi yang mendapatkan perawatan medis atau sudah terkendalikan.

"Artinya masih ada dari 9% dari yang 54 juta itu, hanya 4,9 juta yang sudah tertangani oleh para tenaga ahli para medis," ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Dian, berarti sisanya masih 49 juta lagi yang mereka masih belum tertangani dari seluruh pelosok-pelosok Indonesia.

"Bahkan sering kita dengar orang sampai bunuh diri. Peristiwa itu dalam beberapa  dekade ini pun masih juga mewarnai berita-berita tanah air," ungkapnya.

Webinar bertema Panduan Praktis Aromaterapi untuk Kesehatan Mental Sehari-hari ini  mengupas  pendekatan alami dalam mengatasi gangguan jiwa dengan aromaterapi.

"Dalam  berbagai penelitian modern membuktikan bahwa aroma tertentu dapat membantu menurunkan tingkat stres, meningkatkan kualitas tidur, memperbaiki suasana hati bahkan bisa menstabilkan emosi," papar Dian. 

Nah yang jadi pertanyaan, apa sih pemicu terjadinya gangguan mental atau dikenal dengan mental health  atau mood swing itu?

Menurut Dian,  rata-rata munculnya gabungan faktor dari internal yaitu hormon kesehatan mental dan juga dari eksternal, lingkungan dan gaya hidup atau urban lifestyle.

"Kalau kita lebih rinci lagi di sini itu terbagi dari faktor fisik dan biologis," paparnya.

Pertama secara biologis, karena perubahan hormon. Contohnya, kondisi  ketika seorang perempuan itu mengalami PMS kehamilan minus atau pubertas.

"Dari perubahan hormon ini atau juga dari fisik ini adalah karena kurang tidur tidur,  sehingga mengganggu regulasi dari emosi kita di otak," ujarnya.

Contoh lainnya, orang yang banyak begadang dan pagi hari  sudah harus bekerja lag.

Kedua  juga ada karena kondisi medis. Di mana kondisi medis ini ada dari hipotiroid atau juga hipotiroid diabetes, gangguan saraf ataupun penyakit kronis lainnya.

Ketiga faktor  psikologis. faktor  ini adalah stres yang berlebihan karena tekanan pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya, sekolah,  masalah keluarga atau yang semakin miris adalah masalah finansial itu menjadi faktor psikologis gangguan kesehatan mental.

"Sehingga menjadi pemicunya  menyebabkan orang menjadi depresi bahkan bisa juga gangguan bipolar," jelasnya.

Dari gangguan bipolar borderline personality disorder atau kecemasan yang berlebih  juga ada karena trauma dan luka emosional yang belum terselesaikan atau kita mengenal dengan inner child.

"Pengalaman (buruk)masa lalu yang belum terselesaikan bisa membuat emosi kita lebih mudah berubah," ujarnya.

Keempat, faktor lingkungan dan gaya hidup juga berpengaruh.  Misalnya  pola makan yang tidak seimbang, gula darah  naik turun cepat akibat konsumsi gula yang berlebih atau telat makan itu juga bisa mempengaruhi.

Kelima, kurangnya aktivitas fisik. Olahraganya yang penting olahraga ringan teratur dilakukan bisa membuat pelepasan hormon endorfin atau hormon bahagianya. 

Keenam, faktor  lingkungan sosial dimana lingkungan sosial.   Sering terjadi konflik atau kita berada di dalam toxic relationship lingkungan yang toksik atau juga kurangnya dukungan dari orang tua.

Ketujuh,  gaya hidup juga adalah paparan simulasi yang berlebih yaitu terlalu lama main gadget juga sering menerima informasi negatif di media sosial dan overloadnya pekerjaan.

"Boleh aja kita bermedsos. Tapi  tidak  berlebihan sehingga tidak memasuki alam emosional kita terlalu yang berlebih," tandasnya.

 

 

Daerah