Ethnowellness Sebagai Upaya Promosi Kekayaan Intelektual dan Kearifan Budaya Asli Nusantara
JEJAKVIRAL - Ethnowellness menjadi salah satu contoh pemanfaatan pengetahuan tradisional dan sumber daya genetik Indonesia.
Saat ini industri ethnowellness sedang dikembangkan sebagai upaya mempromosikan kekayaan intelektual dan kearifan budaya asli nusantara.
Yang jadi pertanyaan, apakah ethnowellness sudah dikenal, apakah sudah terkenal.
"Jujur apakah sudah meluas dikenal masyarakat Indonesia? Kalau bicara terkenal, kita sebut Bali, semua orang Indonesia tahu Bali. Bahkan anak baru lulus SD juga sudah tahu Bali," papar Jongky Adiyasa, Pengurus Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Jumat (7/11/2025).
Yang pasti Ethnowllness merupakan budaya kesehatan Indonesia, kearifan lokal warisan para ahli pengobatan di Indonesia.
"Itu yang sangat perlu kita banggakan mengenai ethnowellness. Namun, akankah mampu menarik perhatian turis mancanegara? Sebagai pelaku pariwisata saya haqqul yakin menjawab yes, bisa!" tegasnya.
Kalau bisa, seberapa berhasilkah kita? Itu yang menjadi pertanyaan. Akankah seperti Singapura, Penang, Malaka yang menjadi tumpuan sebagian kecil warga Indonesia untuk berobat.
Mereka tanpa dipromosikan mungkin mereka juga mempromosikan. Tapi buat kalangan orang-orang di Medan, di Jakarta itu berobat pemikiran mereka memilih di Malaka, Singapur, Penang.
"Yang jadi pertanyaan, apakah para pelaku wellness sudah melakukan kaidah pemasaran pariwisata? Ketika bicara kaidah pemasaran itu every body the way marketing," jelasnya.
Sayangnya, lanjut Jongky, banyak orang yang menganggap melakukan pemasaran pariwisata sangat mudah seperti menjual barang produk biasa.
Dia juga menyayangkan masih banyak yang berpikir, termasuk pejabat kita para wisatawan seperti datang dari langit.
"Tiba-tiba turis sudah muncul di bandara. Tinggal bicara dan di arahkan mau ke mana. Banyak orang berpandangan bahwa pariwisata seperti itu," katanya.
Padahal, menurut Jongky, tidak demikian. Pariwisata butuh promosi. Karena memang destinasi wisata tanah air menjadi salah satu pemasukan negara.
Menurutnya, pemerintah pernah mempromosikan pariwisata Indonesia tahun 2002 mulai merintis dan mempromosikan pariwisata Indonesia ke Timur Tengah.
"Akhirnya pasar Timur Tengah sudah menjadi andalan pemasukan devisa Indonesia," jelasnya.
Beberapa menteri pariwisata sampai sekarang banyak berpikir dengan promosi digital dapat mendongkrak wisatawan ke satu negara.
"Jawabannya mungkin iya mungkin tidak. Tapi kalau saya yang sudah menggeluti di dunia pariwisata sekian lama, promosi digital hanya sebagai alat untuk mendapatkan teknologi informasi saja," tambahnya.
Tapi kalau promosi digital yang bisa mendatangkan devisa negara, dirinya tidak percaya.
"Buktinya kedatangan wisatawan hingga 2019-2023, tidak bisa naik secara signifikan. Kalau mau menyaingi Thailand belum bisa kita. Malah bisa disalip Kamboja, Laos, sebentar lagi dengan Vietnam.
Jadi, Jongky mengatakan, bagaimana kita melakukan promosi pariwisata agar berhasil menarik banyak turis mancanegara, mungkin baru bisa mencapai 3 tahun atau lebih baru kita bisa nikmati hasilnya
"Itu pada saat kita sudah melakukan promosi yang baik dan benar. Untuk menuju yang baik dan benar semua lapisan, termasuk pemerintah harus mendukung," tandasnya.