Skip to main content
x

Dulu Perubahan Lingkungan Kerja Bisa 5-10 Tahun, Kini Hanya Hitungan Hari

JEJAKVIRAL - Kondisi lingkungan pekerjaan sekarang di era Gen Z tak bisa lepas dari dunia digital dan regeneratif artificial inteligent (AI).

Kalau dulu, sebelum era milenial, perubahan itu bisa terjadi 5-10 tahun.Tapi di jaman ini, perubahan sangat cepat, bisa dalam hitungan hari.

Ini terlihat dari tingkat pendidikan seseorang. Mereka yang memiliki gelar sarjana S1 sudah terlalu banyak. 

"Mereka yang punya titel  S2 di dunia kerja lebih normal lagi. Nanti kebutuhan  tahun ke depan mungkin S3 udah jadi normal," demikian pernyataan psikolog dari UI, Saskhya Aulia Prima seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Kamis (17/7/2025).

Selain gelar dari  pendidikan, dunia kerja juga membutuhkan seseorang memiliki multiple skill.

Sebab,  kini dalam dunia kerja persaingan semakin ketat. Orang banyak yang semakin pintar, baik secara kognitif dan skill.

"Mereka yang bisa mencapai jabatan yang tinggi, jumlah makin banyak. Karena itu kita butuh reskilling dan upskilling semakin cepat," jelasnya.

Jadi nambahin skill kita dan kemudian juga tambah skill baru per 6 bulan sekali. 

"Otak kita tuh semakin tua, semakin tambah usianya  udah enggak kayak  sebelum 25 tahun. Jadi mempelajari sesuatu yang baru it's emas," paparnya.

Diprediksikan, lanjutnya, beberapa tahun lagi mungkin yang bisa lebih sukses itu bukan cuman orang yang ngerti atau expert di bidangnya.

"Tapi dia mengerti juga. Si AI literasinya gimana atau penggunaannya itu seperti apa.  Ini kan hal-hal yang baru terjadi. Tapi makin lama makin tajam dan ini yang membuat kondisinya  perubahan cepat," paparnya.

Menurutnya, perubahan cepat itu kita udah tahu, angka pengangguran makin naik kita udah tahu. 

Karena itu kemampuan kita belajar cepat dan beradaptasi  harus lebih cepat banget.

Kita juga butuh teknikal-teknik plus skill yang banyak. Jadi memang zamannya lebih advances dibanding dengan zaman milenial dulu angkatan saya atau sebelumnya.

"Dunia kerja saat ini udah enggak laku lagi atau enggak bisa kita memandang situasi kerjaan, cara belajar karyawan, cara belajar kita sendiri dengan hal-hal yang dulu," jelasnya.

Karena memang, menurutnya, saat ini banyak orang  lebih pintar, informasi lebih banyak. 

"Dengan cepatnya perubahan tersebut  sebenarnya kalau secara di level manusia gitu ya otak kita itu senang banget sama sesuatu yang terprediksi sebelumnya," urainya.

Dengan kondisi demikian akan  membuat kita tenang.  Sesuatu yang berubah-ubah, sesuatu yang berganti-ganti itu tuh bikin otak  stres gitu.

"Tidak ada pattern yang bisa ditangkap. Konsisten yang bisa ditangkap sementara zaman sekarang dan nanti yang konsisten adalah sesuatu yang inkonsisten," tambahnya.

Karena itu, sambung Saskhya,  kita harus terbiasa dengan inkonsistensi. 

"Itu  memang berat banget karena melawan nature kita. Makanya teman-teman yang zaman sekarang itu lebih mudah untuk stres. Mengalami   kelelahan secara mental dan fisik," ujarnya. 

Saskhya menggambarkan seseorang yang stres itu memandang sesuatu dengan sinis  atau jadi pengin  enggak bersinggungan lagi dengan hal-hal yang kita kerjakan.

Tak hanya itu,  kita juga sering terjebak hustle culture.  Kita pinginnya saingan terus kayak  kerja terus gitu.

Kemudian digital fortigue. Karena capek banget tapi biasanya kita enggak sadar apa-apa aja.

Kelima,  mudah banget terdistraksi.  Orang-orang di zaman digital  tanpa  disadari  ternyata ngaruh banget di kita misalnya  double speed watching, terus kita bangun pagi lihatnya notification atau misalnya kita gampang banget ganti-ganti screen.

"Itu semua tuh berkontribusi terhadap masalah mental kita dari mulai fokusnya turun. Kita juga jadi lebih sering merasakan  capek dan lain sebagainya," tandasnya.

 

 

Daerah