179 Desa Wisata di Bali ini Miliki Potensi Medical dan Wellness Tourism
JEJAKVIRAL - Terselenggaranya event tingkat internasional seperti Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) menjadi salah satu pemberi semangat kepada masyarakat Bali dalam menghadapi dan menyambut pariwisata yang mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru.
"Salah satu potensi daya tarik wisata Bali yang bisa dikembangkan sejalan dengan perhatian wisatawan terhadap masalah kesehatan adalah wisata kebugaran atau wellness," ujar Ida Ayu Indah Yustikarini, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata provinsi Bali seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Sabtu (9/3/2025).
Kegiatan wellness yang termasuk wisata ini antara lain Yoga, meditasi, spa dan merefresh, termasuk juga pemanfaatan produk herbal yang dibuat dari tanaman obat
Kegiatan wellness tourism seperti ini berkembang dengan sangat baik di Bali beberapa tahun terakhir termasuk kegiatan yang menarik minat wisatawan mancanegara untuk turut serta.
Tempat-tempat wellness tourism itu antara lain berada di Ubud, Canggu, Karangasem atau untuk Kabupaten Buleleng.
"Jadi para peserta ikut partisipasi kegiatan wellness ini diharapkan mereka bisa merecharge atau mengisi ulang baterai dalam diri mereka yang banyak terkikis oleh beban kehidupan," jelas Ida Ayu.
Sejalan dengan tren pengembangan potensi wisatawan ini di Bali telah dibentuk asosiasi wellness dengan nama Bali Maha Usadhi Wellness dengan pembina langsung gubernur dan wakil gubernur Bali dan ketua Dekranasda Provinsi Bali.
"Di Bali terdapat kearifan lokal yang dikenal sebagai Usadha atau pengobatan Bali dan provinsi Bali juga telah memiliki peraturan Gubernur Bali Nomor 55 tahun 2019 tentang pelayanan kesehatan tradisional Bali," jelasnya.
Menurutnya, Pergub tersebut dimaksudkan untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum terhadap sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan tradisional Bali yang berstandar.
Selain itu di Bali telah dibangun tinggal gedung P4TO atau Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat yang dibangun antara lain di Kabupaten Bangli, Karangasem dan juga Kabupaten Tabanan.
Supaya Bali bisa bersaing dengan destinasi wisata kesehatan baik medis ataupun wellness ini yang sudah lebih dulu eksis misalnya bisa bersaing dengan Singapura, kemudian Kuala lumpur atau destinasi yang lain tentu bukan hal yang mudah.
"Kecuali Bali menawarkan sesuatu yang tidak mereka miliki yaitu kearifan lokal. Jadi pengobatan atau healing yang dikombinasi dengan Usadha dan Bali sehingga nilai tawar yang kita promosikan menjadi lebih baik," jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, karena kehidupan di Bali termasuk sektor pariwisata sangat berbasis komunitas disarankan pengembangan wisata kesehatan juga menggandeng desa wisata di Bali.
"Di Bali kami memiliki 179 desa wisata dan tentu saja desa-desa wisata ini memiliki potensi medical dan wellness tourism yang bisa dieksplorasi sebagai daya tarik yang bisa dikembangkan," papar Ida Ayu.
Karena itu, lanjutnya, agar dapat melewati keadaan sulit di sini pemerintah, swasta serta masyarakat harus selalu bersinergi dan saling mendukung untuk melakukan segala upaya demi perekonomian pariwisata Bali.